Mengelola Zat Gizi Secara Tepat

Dalam menyusun menu makanan sehat dahulu kita mengenal sebutan 4 Sehat 5 sempurna, dimana komposisi makanan yang kita konsumsi terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayur mayur, buah serta susu.

Saat ini dikenal 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang, yaitu :

  1. Makanlah aneka ragam makanan setiap hari, yaitu makanan sumber zat tenaga (karbohidrat), zat pembangun (protein) serta zat pengatur (vitamin dan mineral)
  2. Makanlah makanan untuk memenuhi kebutuhan energi, yaitu makanan terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak,
  3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi. Konsumsi gula sebaiknya dibatasi 5% dari jumlah kecukupan energi atau sekitar 3-4 sendok per hari. Seyogyanya sekitar 50-60% kebutuhan energi diperoleh dari karbohidrat kompleks atau setara dengan 3-4 piring nasi
  4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi. Mengkonsumsi lemak berlebihan dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri dan penyakit jantung koroner,
  5. Gunakan garam beryodium untuk mencegah timbulnya gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI). GAKI dapat menghambat perkembangan tingkat kecerdasan anak, penyakit gondok, dan kerdil. Dianjurkan untuk mengkonsumsi garam tidak lebih dari 6 gram (1 sendok teh) per hari,
  6. Konsumsi zat besi. Sumber yang baik adalah sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, hati, telur, dan daging,
  7. Berikan ASI. ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, berikan ASI Eksklusif 6 bulan.
  8. Biasakan sarapan pagi. Sarapan bermanfaat untuk memelihara ketahanan fisik, produktivitas kerja, konsentrasi belajar,
  9. Minum air bersih, aman, dan cukup jumlahnya yaitu minimal 2 liter atau setara dengan 8 gelas per hari,
  10. Lakukan olahraga teratur,
  11. Hindari minum minuman beralkohol,
  12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, yaitu bebas dari cemaran bahan kimia dan mikroba berbahaya,
  13. Bacalah label pada makanan yang dikemas, untuk mengetahui komposisi bahan penyususn, komposisi gizi, serta tanggal kadaluarsa.

Penyusunan menu yang seimbang dimulai dari memperhatikan aneka ragam pangan yang mengadung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantitasnya, serta menerapkan 13 pesan dasar gizi seimbang diatas adalah sesuatu yang penting, namun yang tak kalah pentingnya setelah menu yang seimbang dirancang adalah proses pengolahan makanan. Pengolahan makanan di dapur rumah tangga sebelum dikonsumsi diantaranya adalah penyiangan bahan makanan, pencucian, pemotongan, dan proses pemasakan. Proses-proses tersebut dapat mengurangi kandungan zat gizi dari suatu bahan makanan apabila tidak tepat dalam mengolahnya.

Dalam penyiangan bahan makanan, kita memotong atau menyingkirkan bahan makanan yang tidak dapat dimakan, rusak atau busuk, kulit luar atau biji yang tidak dapat dimakan, batang yang keras yang tidak dapat dimasak. Dalam hal pembuangan kulit buah yang terlalu tebal dapat menyebabkan cukup banyak zat gizi yang terbuang. Para ahli berpendapat, buah yang berkulit tipis sebaiknya dimakan utuh tanpa membuang kulitnya, seperti buah jambu, apel, anggur, pir karena banyak zat gizi pada lapisan luar dari daging buah dalam konsentrasi lebih dibandingkan dengan di dalam daging buahnya.Dalam proses ini zat-zat terbuang tidak begitu banyak sehingga tidak berarti bagi penurunan nilai gizi zat makanan yang dikonsumsi.

Proses yang penting berikutnya adalah mencuci bahan makanan yang akan dimasak, karena di pasar seringkali tidak terbungkus atau terlindungi, dalam pertanian seringkali menggunakan zat-zat racun pembasmi hama, selain itu untuk bahan sayur seperti kol, kangkung mungkin disiram menggunakan air yang tidak bersih, maka pencucian bahan makanan menjadi penting. Mencuci bahan makanan sebaiknya dilakukan dengan air mengalir dan lebih baik dikerjakan sebelum bahan makanan dipotong-potongatau dirajang karena ada zat-zat gizi yang mudah terlarut dalam air dan dapat ikut terbuang dengan air pencuci tersebut.

Bahan makanan biasanya dipotong, dirajang, atau bahkan dihaluskan dengan tujuan agar ukuran menjadi lebih kecil sehingga mudah untuk dimasukkan ke dalam mulut. Proses ini apabila dilakukan dengan benar akan menurunkan nilai gizi bahan makanan. Makanan yang telah dirajang atau dihaluskan jangan terlalu lama dibiarkan terbuka di udara luar karena zat-zat gizi tertentu seperti vitamin dapat rusak.

 

Dalam pembuatan makanan proses selanjutnya adalah pemasakan, yaitu pengolahan dengan menggunakan panas, maupun dengan bahan kimia. Dalam pemasakan makanan menggunakan panas, ada beberapa hal yang terjadi yaitu dengan menggunakan panas makanan dapat menjadi lebih dapat dicerna, dengan pemanasan yang tinggi dan lama akan membunuh mikroba yang mungkin dapat menyebabkan penyakit, panas dapat menetralkan pengaruh zat-zat beracun yang secara alami terdapat pada bahan makanan, dan panas juga dapat mengubah zat gizi menjadi menguntungkan kepada karbohidrat dan protein sehingga meningkatkan nilai gizinya.

Namun, tak boleh dilupakan pemanasan juga memiliki pengaruh negatif terutama bila dengan suhu terlalu tinggi, diantaranya dapat mengakibatkan perubahan kepada karbohidrat dan protein sehingga menurunkan nilai gizi bahkan menjadi tidak berguna bagi tubuh. Pemanasan dengan suhu terlalu tinggi juga dapat menimbulkan zat pemicu kanker, misalnya pada makanan yang hangus. Maka pemanasan harus diperhatikan dengan baik suhu yang tinggi namu tidak berlebihan dan tidak terlalu lama dalam memasak. Lama dan tinggi suhu dalam memasak tergantung dari jenis makanan masing-masing.

Dalam memasak kita mempergunakan pengolahan kimia. Misalnya dalam pembuatan acar, dilakukan penambahan asam cuka, hal ini akan berpengaruh atas zat-zat gizinya, namun keasaman atau pH yang rendah tersebut akan membunuh mikroba yang mencemari, acar tidak mudah busuk, dan banyak vitamin yang stabil pada kondisi ini. Contoh lainnya adalah perebusan bahan makanan dengan menambahkan soda kue agar cepat empuk, pada kondisi demikian zat gizi terutama vitamin menjadi rusak begitu pula dengan protein.

Dengan demikian mulai sekarang kita dapat mengatur menu sehat yang seimbang bagi diri sendiri dan keluarga dan mengolahnya dengan tepat sehingga zat gizi yang terkandung didalamnya dapat terjaga dengan baik dan menjadi manfaat bagi tubuh.

Sumber :
Dedeh. Hidup Sehat Melalui Gizi Seimbang. 2011. Diunduh dari : www.rshs.or.id/2011/12/hidup-sehat-melalui-gizi-seimbang/, pada tanggal : 28 Desember 2011.
Diunduh dari : www.kompas.com/kesehatan/news/senior/gizi/0212/19/gizi4.htm, pada tanggal : 28 Desember 2011.
Sediaoetama Adj. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan profesi jilid II. 2006. Dian Rakyat : Jakarta.

Posted in kesehatan | Tagged , , , , , | Leave a comment

Memilih Kontrasepsi Tepat Pasca Melahirkan!

Seiring dengan berkembangnya jaman, pertumbuhan penduduk di dunia khususnya di Indonesia telah bertambah dengan pesat. Program Keluarga Berencana menjadi program yang sangat berperan dalam menanggulangi permasalahan ini. Selain itu program ini juga berperan penting dalam meningkatkan angka keselamatan ibu dan bayi dengan memberi jarak yang cukup dengan persalinan berikutnya. Namun sejauh mana kita telah memahami program ini? Kapan saat yang tepat untuk memulai kontrasepsi pasca persalinan? Dan kontrasepsi apa yang tepat untuk digunakan?

Secara umum, ada beberapa jenis metode kontrasepsi, antara lain kontrasepsi hormonal (seperti KB suntik, KB susuk/inplant, dan pil KB), kontrasepsi mekanik (seperti alat kontrasepsi dalam rahim/IUD, diaprahma, dan kondom), dan kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi).

Kontrasepsi pasca persalinan merupakan inisiasi pemakaian metode kontrasepsi dalam waktu 6 minggu pertama pasca persalinan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan khususnya pada 1-2 tahun pertama pasca persalinan.

Pada wanita pasca melahirkan kemungkinan untuk hamil kembali akan menjadi lebih kecil apabila mereka terus menyusui anaknya setelah dilahirkan. Hal ini berkaitan dengan peningkatan kadar hormon prolaktin saat masa menyusui/laktasi. Hormone prolaktin yang meningkat akan mencegah terjadinya ovulasi dan memperlama masa tidak datangnya haid/menstruasi pasca melahirkan (amenorea postpartum).

Meskipun laktasi dapat membantu mencegah kehamilan, akan tetapi suatu saat ovulasi tetap akan terjadi. Ovulasi dapat mendahului menstruasi pertama pasca melahirkan dan pembuahan pun akan dapat terjadi. Pemilihan metode kontrasepsi untuk ibu pasca melahirkan perlu dipertimbangkan dengan baik, sehingga tidak mengganggu proses laktasi dan kesehatan bayinya.

KONTRASEPSI NON HORMONAL

Semua metode kontrasepsi non hormonal dapat digunakan oleh ibu-ibu dalam masa menyusui. Metode ini menjadi pilihan utama dari berbagai jenis kontrasepsi yang ada karena tidak mengganggu proses laktasi dan tidak berisiko terhadap tumbuh kembang sang bayi. Metode kontrasepsi non hormonal yang ada meliputi : metode laktasi amenorrhea (LAM/ Lactational Amenorrhea Method), kondom, spermisida, diafragma, alat kontrasepsi dalam rahim / IUD, pantang berkala, dan kontrasepsi mantap (tubektomi / vasektomi).

Pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD) dapat dilakukan segera setelah proses persalinan atau dalam waktu 48 jam pasca persalinan. Jika lewat dari waktu tersebut, maka pemakaian AKDR akan ditunda hingga 6-8 minggu kemudian oleh karena risiko perforasi atau ekspulsi lebih besar jika pemasangan AKDR dilakukan pada minggu ke 2-6 setelah persalinan.

Kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi) dapat dianggap sebagai metode kontrasepsi yang tidak reversibel. Metode ini mengakibatkan yang bersangkutan tidak dapat hamil atau tidak dapat menyebabkan kehamilan lagi, sehingga metode ini lebih diperuntukkan bagi pasangan yang memiliki cukup anak dan tidak menginginkan untuk menambah jumlah anak lagi.

 

KONTRASEPSI HORMONAL

Pemakaian kontrasepsi hormonal dipilih yang berisi progestin saja, sehingga dapat digunakan untuk wanita dalam masa laktasi karena tidak mengganggu produksi ASI serta tumbuh kembang bayi. Metode ini bekerja dengan menghambat ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma, menghalangi implantasi ovum pada endometrium dan menurunkan kecepatan transpor ovum di tuba. Suntikan progestin dapat diberikan sebelum sang ibu meninggalkan rumah sakit pasca bersalin, yaitu sebaiknya sesudah ASI terbentuk, kira-kira hari ke 3-5.

Untuk wanita pasca bersalin yang tidak menyusui, semua jenis metode kontrasepsi dapat digunakan, kecuali LAM. Waktu pemakaian kontrasepsi tergantung dari jenis metode yang digunakan. AKDR, kontrasepsi mantap, dan suntik progestin dapat diberikan segera setelah persalinan. Pemakaian kontrasepsi hormonal yang berisi kombinasi estrogen dan progesteron harus ditunda hingga 3 minggu setelah persalinan untuk mencegah terjadinya risiko gangguan pembekuan darah.

Namun demkian, patut diingat bahwa tidak ada satu pun metode kontrasepsi yang memiliki effektifitas 100%. Untuk itu pengetahuan yang baik diperlukan sebelum memilih dan menggunakan metode kontrasepsi tertentu. Adanya konsultasi dengan praktisi kesehatan/dokter terlebih dahulu sangat disarankan sehingga didapatkan pemahaman yang baik tentang kontrasepsi yang akan digunakan.

Referensi :

  1. Wiknjosastro H, et al. Ilmu Kandungan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2008.
  2. Ferrel B, Huber D. Comprehensive Reproductive Health and Family Planning Training Curriculum. Medical Services Pathfinder International. Watertown.
  3. Delvin D. Choosing A Contraceptive Method.  2009. http://www.netdoctor.co.uk/sex_relationships/facts/contraception_which.htm

 

 

Posted in kesehatan | Tagged , , | Leave a comment

Melahirkan Normal Setelah Operasi Sesar Sebelumnya? Mungkinkah?

Vaginal Birth After Caesarean (VBAC), atau Trial of Labor After Caesarean (TOLAC) adalah istilah untuk melahirkan anak secara normal (melalui vagina) setelah anak yang sebelumnya dilahirkan secara operasi Sesar (Caesarean section). Sejak tahun 1916, terkenal istilah bahwa setelah sesar, harus sesar lagi. Sampai tahun 1988, hanya 3% anak yang berhasil lahir normal setelah anak sebelumnya melalui operasi sesar.

Ada banyak alasan kenapa sebaiknya melahirkan normal, baik untuk si ibu maupun si bayi, antara lain:

Ibu:

  • Mencegah kematian dari operasi
  • Mencegah komplikasi operasi
  • Mencegah kehilangan darah banyak
  • Mengurangi resiko infeksi
  • Mengurangi resiko cedera organ sekitar
  • Mengurangi resiko penyumbatan pembuluh darah karena bekuan darah operasi
  • Menyusui biasa lebih mudah setelah melahirkan normal, lebih hemat.

Anak:

  • Menurunkan kejadian hipertensi paru persisten
  • Lahir normal mengkondisikan bayi akan kehidupan di luar rahim
  • Mencegah cedera bayi akibat operasi
  • Tingkat kematian bayi lebih rendah ketimbang sesar elektif

Kelahiran sesar adalah melahirkan bayi melalui insisi (pemotongan bedah) yang dibuat di dinding perut dan melalui rahim, bukan melalui vagina. Alasan untuk bedah caesar termasuk kegagalan untuk melanjutkan persalinan normal, kelainan laju jantung janin, dan komplikasi yang melibatkan plasenta (ketuban). Karena melahirkan sesar adalah prosedur pembedahan besar, ini berarti terdapat risiko yang ditimbulkan oleh operasi besar lainnya, seperti infeksi atau komplikasi dari anestesi (pembiusan). Kandidat bedah sesar biasa juga akan mempunyai kesulitan pada kehamilan berikutnya.

Kelahiran normal setelah sesar mempunyai resiko komplikasi seperti ruptur uterus (pecah rahim), infeksi lapisan rahim, kekurangan oksigen ke otak bayi, dan kematian bayi. Namun penelitian membuktikan angka kejadian komplikasi ini sangatlah kecil. Ruptur uterus adalah komplikasi yang paling umum. Ruptur uterus terjadi ketika luka di otot rahim akan terbuka. Pecahnya rahim dapat mengakibatkan sebagian atau seluruh dari bayi dan plasenta mungkin meninggalkan rahim, yang dapat menyebabkan kelainan denyut jantung janin dan bahkan kematian janin. Penggunaan obat-obatan untuk mempercepat proses kelahiran, justru dapat meningkatkan resiko rupture uterus ini. Apabila parah, dapat mengakibatkan perdarahan berat, yang dapat membahayakan jiwa ibu dan bayi. Dalam beberapa kasus, perdarahan mungkin begitu parah sehingga histerektomi perlu dilakukan.

Kontrol kehamilan yang baik, kemajuan teknologi, dan obat-obatan menurunkan resiko-resiko yang dapat terjadi saat VBAC/TOLAC. Riset terbaru membuktikan kalau VBAC tidak menaikkan resiko pendarahan paska kelahiran, sobekan vagina, atau komplikasi pada bayi. Pendapat ini didukung juga oleh ACOG, asosiasi obstetrik dan ginekologi dari Amerika. Kerusakan otak atau kematian bayi karena VBAC terjadi pada 1 dari 2000 kelahiran. Semua resiko sama besarnya dengan ibu yang melahirkan normal sebelumnya. Ketakutan akan ruptur uterus terjadi pada masa lalu, sebab pada jaman dahulu insisi yang digunakan adalah secara vertikal. Saat ini insisi sesar dilakukan secara melintang dan letak nya rendah, sehingga kemungkinan terjadinya komplikasi rahim adalah rendah.

Riwayat rupture uteri sebelumnya, bayi yang besar, tulang panggul yang sempit, atau infeksi jalan lahir yang masih aktif tetaplah beberapa syarat untuk tetap dilakukan sesar. Bedah sesar ulang juga mungkin membawa risiko di luar yang ditimbulkan dengan VBAC. Risiko infeksi dan komplikasi bedah lainnya tampaknya lebih besar pada wanita yang menjalani ulangi kelahiran sesar dibandingkan dengan mereka yang sukses dengan kelahiran vagina setelah bedah sesar.

Mengulangi kelahiran sesar dapat mempersulit kehamilan berikutnya. Terkadang dapat menyebabkan penempelan plasenta pada leher rahim, sehingga mengganggu proses kelahiran. Sesar sebelumnya juga meningkatkan kemungkinan bahwa plasenta akan tumbuh ke dalam dinding rahim, menyebabkan kesulitan pelepasan plasenta setelah melahirkan. Hal ini dapat mengakibatkan perdarahan berat selama kelahiran, dan dapat memerlukan operasi pengangkatan rahim.

Keputusan untuk mencoba kelahiran normal, atau mengulangi sesar haruslah diputuskan secara hati-hati oleh sang calon ibu dan sang dokter. Segala macam resiko perlu dipertimbangkan matang-matang. VBAC dapat dipertimbangkan oleh ibu karena:

  • Lebih sedikit komplikasi (infeksi dan kehilangan darah)
  • Energi dan stamina lebih cepat pulih kembali
  • Inisiasi menyusui dini pada bayi dapat dilakukan
  • Memberi efek positif dan lebih mudah untuk kelahiran berikutnya

Peluang keberhasilan VBAC akan rendah jika:

  • Kehamilan post-term
  • Bayi yang besar
  • Sudah pernah menjalani operasi sesar lebih dari 1x
  • Obesitas

Gagal melahirkan pada VBAC sehingga perlu operasi sesar terjadi pada 20%-40% kasus. Lalu, bagaimanakah kita menyiapkan diri kita sendiri (para ibu hamil tentunya)? Berikut saran-sarannya:

  • Pelajari mengenai VBAC dan cara meneran yang baik
  • Diskusikan kekhawatiran anda dan pengharapan anda dengan sang dokter. Pastikan dokter telah memiliki riwayat kesehatan yang lengkap termasuk riwayat obstetri sebelumnya.
  • Pastikan tersedia sarana kesehatan serta sarana pemantauan yang lengkap dan memadai selama kelahiran. Utamakan di rumah sakit dengan sarana terlengkap yang juga mempunyai sarana untuk memonitor keadaan janin secara berkelanjutan, tim bedah yang siap siaga, serta ketersediaan obat bius untuk mengontrol sakit dan transfusi darah 24 jam untuk mengontrol pendarahan.
  • Biarkan proses kelahiran berjalan alami, tanpa menggunakan bantuan obat-obatan. Penggunaan obat-obatan akan memperbesar resiko ruptur uteri.
  • Persiapkan mental anda jika harus terpaksa untuk dilakukan bedah sesar kembali.
  • Rawatlah kesehatan fisik anda. Makan makanan sehat, tetap lakukan aktivitas fisik rutin ringan setiap harinya, dan cukup istirahat.

 

 

Referensi:

  1. ChildBirth.org. Vaginal Birth After Cesarean FAQ.
  2. Caughey AB, Smith CV. Vaginal Birth After Cesarean Delivery. eMedicine-Medscape.
  3. Mayo Clinic Staff. VBAC (vaginal birth after C-section). Mayo Clinic.
  4. American Pregnancy Association. VBAC: Vaginal Birth after Cesarean.
  5. Cornforth T. Is Vaginal Birth Safe After C-Section? Risks From Labor After Prior Cesarean Delivery Low, Study Reports. Women’s Health About.com
  6. Rozen G, Ugoni AM, Sheehan PM. A new perspective on VBAC: a retrospective cohort study. Women Birth. 2011 Mar;24(1):3-9.

TanyaDokterAnda.com – Portal Kesehatan Interaktif #1

Posted in kesehatan | Tagged , , , | Leave a comment

Sinusitis, Jangka Panjang Bisa Membahayakan Otak

Yth. Bapak/Ibu buku medis,

jokoblitar telah mengirimkan sebuah link berita dari Kompas.Com :

Judul : Sinusitis, Jangka Panjang Bisa Membahayakan Otak

Jakarta, Kompas — Kualitas lingkungan yang buruk dan paparan udara yang
tidak sehat serta daya tahan tubuh kurang bugar membuat siapa saja bisa
terkena penyakit sinusitis. Gangguan pada saluran pernapasan akibat virus
atau bakteri ini dalam jangka panjang bisa mengganggu kerja organ mata dan
otak.”Rongga sinus dekat dengan organ vital, seperti mata dan otak.
Komplikasi bisa menjadi infeksi mata dan otak,” ucap Mirta H Reksodiputro,
dokter spesial …

Berita Selengkapnya :

http://www1.kompas.com/read/xml/2011/12/19/07192952/Sinusitis.Jangka.Panjang.Bisa.Membahayakan.Otak

Pesan :
Sinusitis, Jangka Panjang Bisa Membahayakan Otak

Jakarta, Kompas — Kualitas lingkungan yang buruk dan paparan udara yang
tidak sehat serta daya tahan tubuh kurang bugar membuat siapa saja bisa
terkena penyakit sinusitis. Gangguan pada saluran pernapasan akibat virus
atau bakteri ini dalam jangka panjang bisa mengganggu kerja organ mata dan
otak.

”Rongga sinus dekat dengan organ vital, seperti mata dan otak. Komplikasi
bisa menjadi infeksi mata dan otak,” ucap Mirta H Reksodiputro, dokter
spesi

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengompol karena Stres

Yth. Bapak/Ibu bukumedis,

jokoblitar telah mengirimkan sebuah link berita dari Kompas.Com :

Judul : Mengompol karena Stres

TANYA :  Dok, sejak kecil sampai sekarang, kalau saya mempunyai masalah
seperti stres, marah atau sedih, maka malamnya saya mengompol. Saya sudah
pernah berobat baik ke psikolog, psikiater dan pijat. Sekarang, semakin tua
semakin sering. Saya juga termasuk orang yang sulit menghilangkan trauma.
Sekira 1,5 tahun yang lalu saya mengalami tabrakan sepeda motor pada waktu
malam hari. Sekarang kalau hari sudah malam , saya kalau n …

Berita Selengkapnya :

http://www1.kompas.com/read/xml/2011/12/18/10332151/Mengompol.karena.Stres

Pesan :
artikel yang bagus

Posted in Uncategorized | Leave a comment